Cloud
Computing
Cloud
computing adalah pemanfaatan teknologi komputer berbasis internet yang biasanya
diwujudkan dalam bentuk layanan yang dapat diakses melalui internet. Cloud
Computing menurut Wikipedia yang juga sebut dengan istilah komputasi awan
(cloud computing) adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer dan
pengembangan berbasis Internet. Untuk melengkapi apa itu arti cloud computing,
berikut hasil penelurusan LM dalam rangkuman sebagai berikut.
Perkembangan
Cloud Computing
Cloud computing adalah hasil dari
evolusi bertahap di mana sebelumnya terjadi fenomena grid computing,
virtualisasi, application service provision (ASP) dan Software as a Service
(SaaS). Konsep penyatuan computing resources melalui jaringan global sendiri
dimulai pada tahun ‘60-an. Saat itu muncul “Intergalactic computer network”
oleh J.C.R. Licklider, yang bertanggung jawab atas pembangunan ARPANET
(Advanced Research Projects Agency Network) di tahun 1969. Beliau memiliki
sebuah cita-cita di mana setiap manusia di dunia ini dapat terhubung dan bisa
mengakses program dan data dari situs manapun, di manapun. Menurut Margaret
Lewis, Direktur Marketing Produk AMD. “Cita-cita itu terdengar mirip dengan apa
yang kini kita disebut dengan cloud computing”. Para pakar komputasi lainnya
juga memberikan penambahan terhadap konsep ini, di antaranya John McCarthy yang
menawarkan ide mengenai jaringan komputasi yang akan menjadi infrastruktur
publik, sama seperti the service bureaus yang sudah ada sejak tahun ‘60-an.
Semenjak tahun ‘60-an, cloud
computing telah berkembang berdampingan dengan perkembangan Internet dan Web.
Namun karena terjadi perubahan teknologi bandwidth yang cukup besar pada tahun
1990-an, maka Internet lebih dulu berkembang dibanding cloud computing. Dan
kini teryata terlihat bahwa pendorong utama cloud computing adalah karena
adanya revolusi Internet. Salah satu batu loncatan yang cukup drastis adalah
dengan adanya Salesforce.com di tahun 1999, yang merupakan pencetus pertama
aplikasi perusahaan dijalankan melalui Internet. Perkembangan berikutnya adalah
adanya Amazon Web Services di tahun 2006, di mana dengan teknologi Elastic
Compute Cloud (EC2), terdapat situs layanan web yang di komersialkan yang
memungkinkan perusahaan kecil dan individu untuk menyewa komputer atau server,
agar dapat menjalankan aplikasi komputer mereka.
Batu lompatan besar lainnya
datang di tahun 2009 dengan Web 2.0 mencapai puncaknya. Google dan lainnya
memulai untuk menawarkan aplikasi browser-based untuk perusahaan besar, seperti
Google Apps. “Kontribusi yang paling penting dari komputasi cloud adalah
munculnya “killer apps” dari penguasa teknologi seperti Microsoft dan Google.
Ketika perusahaan tersebut mengirimkan layanan dalam bentuk yang mudah untuk di
konsumsi, efek penerimaannya menjadi sangat luas”, menurut Dan Germain, Chief
Technology IT provider Cobweb Solution. “Faktor utama lainnya yang mempengaruhi
berkembangnya komputasi cloud antara lain matangnya teknologi visual,
perkembangan universal banwidth berkecepatan tinggi, dan perangkat lunak
universal”, menurut Jamie Turner sang pelopor komputasi cloud. Turner
menambahkan, “cloud computing sudah menyebar luas hingga kepada para pengguna
Google Doc. Kita hanya dapat membayangkan betapa besarnya ruang lingkup yang
sudah di capai. Apa saja dapat di lakukan dan dikirimkan melalui cloud”.
Cloud
service biasanya memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah :
- Sangat cepat di deploy, sehingga bersifat instant untuk implementasi.
- Biaya start-up teknologi ini cukup terjangkau dan meminimalisir adanya biaya modal investasi yang mahal.
- Biaya service dan pemakaian akan berdasarkan komitmen yang tidak fix.
- Service ini dapat dengan mudah di upgrade atau downgrade dengan cepat tanpa adanya penalty.
- Service ini akan menggunakan metode multi-tenant (banyak klien pengguna dalam 1 platform).
- Kemampuan untuk mengcustomize service sesuai kebutuhan klien akan menjadi sangat fleksibel.
Sistem
cloud secara otomatis mengawasi dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya
komputasi dengan memanfaatkan kemampuan pengukuran (metering) misalnya
penyimpanan, pemrosesan, bandwidth, dan account pengguna aktif. Penggunaan
sumber daya dapat dipantau, dikendalikan, dan dilaporkan sebagai upaya
memberikan transparansi bagi pelanggan.
Model
Service Cloud kepada Pelanggan
o
Infrastructure
as Service, hal ini meliputi seluruh penyediaan infratruktur IT seperti
fasilitas data center, storage, server, grid untuk virtualized server, dan
seluruh komponen networking yang ada didalam sistem cloud yang dikelola pihak
ketiga. Sebagai pengguna, Pelanggan hanya perlu login ke sebuah interface yang
disiapkan oleh provider dan memilih sendiri spesifikasi layanan yang dibutuhkan
lalu membayarnya sesuai kapasitas yang dipakai, pelanggan tidak perlu menunggu
lama untuk dapat menggunakan server sesuai kapasitas yang dibutuhkannya.
o
Platform-as-a-service,
adalah development platform berbasis web, dimana Anda bisa menggunakannya untuk
membuat sebuah aplikasi web. PaaS akan membuka kesempatan bagi para developer
dari berbagai tingkat pengetahuan, untuk mengembangkan aplikasi secara cepat
dan murah. Selain itu, aplikasi yang dihasilkan bisa langsung dideploy dengan
mudah, tanpa harus melibatkan tenaga ahli untuk melakukannya,memungkinkan
developer untuk menghilangkan kekhawatirkan mengenai kebutuhan operating
system,infrastructure scaling, load balancing dan lainnya, sehingga mereka
tetap fokus pada application developmentnya.
o
Software-as-a-service,
adalah software atau aplikasi web-based interface, yang dideploy di sisi pihak
ketiga, sehingga dapat diakses melalui jaringan oleh setiap pelanggan. Anda
tidak perlu melakukan deployment aplikasi dari awal, tidak perlu membayar
lisensi software, maupun membeli seperangkat server untuk menjalankan aplikasi
yang Anda butuhkan. Anda cukup membayar aplikasi sesuai dengan penggunaan per
user yang dibayar secara rutin dengan mekanisme OPEX. Karena aplikasi ini
berbasis web, maka Anda hanya butuh koneksi internet dan sebuah browser untuk
menjalankannya.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar