Minggu, 12 Januari 2014

Cerpen Fantasi



 Rapunzel Pergi ke Rumah Nenek

Pagi ini aku dibangunkan oleh sekawanan burung gereja yang hinggap diatas jendela kamarku, kicaunya membuat aku tersadar dari mimpiku. Mimpiku begitu indah bertemu dengan seorang pangeran tampan, batinku. Pelan-pelan aku membuka mataku, April seekor bunglon peliharaanku masih tidur diatas dadaku. Tak lama terdengar suara ibu memanggilku “Sayang tolong antarkan obat untuk nenekmu!” “iya buu” jawabku. Aku membangunkan April, namun dia hanya berpindah tempat memilih tidur dibantalku lalu tidur lagi.
Aku mandi membersihkan diriku, setelah mandi aku menatap diriku dicermin. Rambut panjang bewarna pirang yang selalu kurawat sejak kecil kini tumbuh panjang, indah dan tebal, mataku berawarna hijau muda bulat memancarkan keceriaan, dan keingintahuan, kulitku pun putih bersih bagai putri-putri dalam dongeng yang dulu sering ibu bacakan untukku. Ah, aku ingin bertemu seorang pangeran, gumamku dalam hati. “Rapunzeeeell cepat turun!” ibu tak sabar karena aku tak kunjung turun dari kamarku. “April ayo bangun” kataku pada April.
Aku berlari kecil menyusuri tangga menuju dapur diiringi April yang berpengangan erat dibahuku. Didapur ibu sudah selesai dengan kuali besar hitam untuk memasak ramuan obat dan tongkat sihirnya, ya ibuku seorang penyihir baik hati yang memanfaatkan ilmu sihirnya untuk pengobatan “antarkan obat untuk nenekmu” ulangnya lagi. Keranjang rotan berisi obat yang sudah disiapkan ibu didekat pintu aku genggam erat. Aku keluar melalui pintu yang berada di belakang menara, udara begitu sejuk menerpa wajahku. Disniliah aku hidup, di sebuah menara tinggi ditengah hutan yang diselimuti bunga dan daun-daun dari tanaman rambat, menara ini hanya memiliki satu pintu keluar masuk dan juga satu jendela. Aku bersenandung ria melewati pepohonan rimbun “Nanana.. April hari ini cerah sekali ya” kataku pada April, ia hanya mengangguk saja.
“Mau kemana kitaaa?? Kerumah nenek.. Mau kemana kitaaa?? Kerumah nenek.” Aku menirukan film Dora yang sering aku tonton setiap pagi. Tak jauh aku melihat tujuh orang kuracaci yang sedang berkumpul, mereka tampak bingung. “April ada apa dengan para kurcaci itu?” kataku. April mengangkat kedua bahunya. “Kita kesana yuk.”
“Hei para kurcaci kenapa kalian terlihat bingung?” tanyaku. “Begini…” tampak keraguan dan kecemasan dari kurcaci-kurcaci ini. “Kami hidup bersama seorang putri bernama  Snow White, namun tadi seorang penyihir jahat memberinya sebuah apel beracun. Ketika putri menggigit apel tersebut ia terjatuh pingsan dan hingga sekarang belum sadarkan diri.” salah seorang kurcaci berbaju merah menceritakan masalah yang mereka hadapi. “Oh begitu apa didaerah sini ada tanaman obat?” “Ada!” sahut mereka. “Dimana? Tolong antarkan aku kesana.” Para kurcaci ini mengantarku ke bagian hutan yang terdapat tanaman obat, ilmu obat-obatan yang dimiliki ibu sedikit sedikit aku mengerti. “Disini tempatnya.” Kata seorang kurcaci berbaju biru.
“Baiklah aku akan mencari beberapa tanaman” kataku. Aku mulai mengambil tanaman-tanaman yang dibutuhkan. Setelah semua terkumpul aku ingin memberikan tanaman-tanaman itu untuk para kurcaci, namun April menarik-narik bajuku dan menunjuk satu tanaman. “oh iya, aku hampir lupa ada satu tanaman yang terlupa. Untung saja April mengingatkan.”. April dan aku sering membantu ibu membuat obat-obatan.
“Ini tanaman yang dibutuhkan untuk mengobati Snow White.” Kataku. “Terimakasih. Oh iya, kami lupa menanyakan siapa namamu?.” para kurcaci menjawab serentak lalu kurcaci berbaju kuning menanyakan namaku. “Namaku Rapunzel. Kalian harus menumbuk semua tanaman ini menjadi satu lalu minumkan sedikit demi sedikit pada Snow White.” aku memberi petujuk pada mereka. “Baiklah para kurcaci, aku harus melanjutkan perjalananku menuju rumah nenek” aku mulai berpamitan pada ketujuh orang kurcaci tersebut. “Hati-hati Rapunzel semoga kamu selamat sampai tujuan.” kali ini kurcaci berbaju hijau berteriak. Mereka melambaikan tangan dan begitu pula aku.
Perjalananku pun berlanjut menyusuri hutan dengan pohon rimbun. Semakin aku jauh berjalan semakin terdengar gemericik air disungai. Air nya begitu jernih diterpa sinar matahari, terlihat ikan-ikan yang sedang berenang kesana-kemari. Dipinggir sungai aku melihat seorang gadis cantik sepertinya lebih tua dariku, namun pakaiannya lusuh. Ia terlihat seperti mencari sesuatu. Aku menghampirinya dan bertanya “Hallo… Sedang apa kamu?” sapaku. Gadis itu sedikit kaget dengan kehadiranku, “Aku sedang mencari tanaman obat untuk ibu tiriku yang sedang sakit.” jawabnya. “Siapa namamu?” tanyaku. “Namaku Cinderella.” ia menjawab dengan malu-malu. “Aku Rapunzel.” Jawabku memperkenalkan diri.
Cinderella menceritakan bahwa ia seorang putri yang tinggal bersama ibu tiri jahat dan kedua sudara tiri perempuan yang juga jahat padanya. “Kasihan sekali kamu Cinderella, aku akan membantumu mencari obat untuk ibumu.” Jika Cinderella tidak membawakan obat tersebut saudara tirinya tidak akan memberinya makan malam. Kami pergi berjalan sambil mencari tanaman yang dibutuhkan. “Hei Cinderella! Itu kan tanaman yang kamu cari?”. Cinderella terlihat kaget dan gembira “Iyaa! Itu tanaman yang aku cari. Terimakasih Rapunzel berkat bantuanmu aku bisa menemukan tanaman itu.” Cinderella menggenggam erat tanganku, ia sangat berterima kasih padaku. “Sama-sama Cinderella. Aku harus melanjutkan perjalananku. Nanti kamu bisa bercerita lagi padaku melalui e-mail. Aku akan menunggu suratmu.” Kataku pada Cinderella. “Baiklah Rapunzel jika aku sempat aku akan mengirim e-mail kepadamu.” Kami berpelukan kemudian melambaikan tangan.
April mulai merasa lapar, ia memberi tahu kepadaku bahwa sekarang waktunya makan siang. Aku juga sudah merasa lapar, aku melihat ada sebuah pohon anggur yangterlihat sangat lezat sekali. “April lihat ada pohon anggur!” aku menghampiri pohon tersebut. April yang sudah sangat lapar lalu memakan anggur-anggur tersebut dengan lahap “Pelan-pelan April makannya nanti tersedak!”. Lezat sekali anggur ini, gumamku. Tak lama muncul naga besar datang dari atas langit menatap aku dan April dengan tatapan yang sangat tajam, degan matanya yang seram. Aku kaget dan berteriak “Tolooong!! Toloong!”.
Seorang pria datang dengan seekor kuda putih menggenggam pedang bertarung dengan naga tersebut. Pedang pria ini mengenai kaki naga yang besar itu, naga terlihat kesakitan lalu terbang kembali ke langit. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya pria itu. “Ya aku baik-baik saja. Terimakasih atas pertolonganmu.” aku terpana pada wajah pria ini.  “Siapa namamu?” tanya pria itu lagi. “Aku Rapunzel, siapa namamu?” aku balik bertanya. “Aku pangeran Eugene Fitzherbert.” Seorang pangeran, aku terdiam tidak percaya. “Kamu ingin pergi kemana?” tanyanya. “Kerumah nenekku didepan sana.” Aku menunjuk kearah rumah nenek.
“Ayo aku antar, naik kuda. Lebih aman.” ia menawarkan mengantarku. Aku diam sejenak, tanpa piker panjang aku mengiyakan. Aku sampai rumah nenek dengan selamat, memberikan obat pada nenek. Lalu aku langsung pamit pulang ada nenek. Eugene mau mengantarku kembali ke menara, rumahku. Tidak disangka dari pertemuan tersebut akhirnya kami menikah. Oh iya Cinderella juga sempat mengirim e-mail padaku, ia bercerita bahwa ia sudah menikah dengan seorang pangeran. Baguslah ia tidak akan dijahati lagi oleh ibu dan saudara tirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar