Rapunzel Pergi ke Rumah Nenek
Pagi
ini aku dibangunkan oleh sekawanan burung gereja yang hinggap diatas jendela
kamarku, kicaunya membuat aku tersadar dari mimpiku. Mimpiku begitu indah
bertemu dengan seorang pangeran tampan, batinku. Pelan-pelan aku membuka
mataku, April seekor bunglon peliharaanku masih tidur diatas dadaku. Tak lama
terdengar suara ibu memanggilku “Sayang tolong antarkan obat untuk nenekmu!”
“iya buu” jawabku. Aku membangunkan April, namun dia hanya berpindah tempat
memilih tidur dibantalku lalu tidur lagi.
Aku
mandi membersihkan diriku, setelah mandi aku menatap diriku dicermin. Rambut
panjang bewarna pirang yang selalu kurawat sejak kecil kini tumbuh panjang,
indah dan tebal, mataku berawarna hijau muda bulat memancarkan keceriaan, dan
keingintahuan, kulitku pun putih bersih bagai putri-putri dalam dongeng yang
dulu sering ibu bacakan untukku. Ah, aku ingin bertemu seorang pangeran, gumamku
dalam hati. “Rapunzeeeell cepat turun!” ibu tak sabar karena aku tak kunjung
turun dari kamarku. “April ayo bangun” kataku pada April.
Aku
berlari kecil menyusuri tangga menuju dapur diiringi April yang berpengangan
erat dibahuku. Didapur ibu sudah selesai dengan kuali besar hitam untuk memasak
ramuan obat dan tongkat sihirnya, ya ibuku seorang penyihir baik hati yang
memanfaatkan ilmu sihirnya untuk pengobatan “antarkan obat untuk nenekmu” ulangnya
lagi. Keranjang rotan berisi obat yang sudah disiapkan ibu didekat pintu aku
genggam erat. Aku keluar melalui pintu yang berada di belakang menara, udara
begitu sejuk menerpa wajahku. Disniliah aku hidup, di sebuah menara tinggi ditengah
hutan yang diselimuti bunga dan daun-daun dari tanaman rambat, menara ini hanya
memiliki satu pintu keluar masuk dan juga satu jendela. Aku bersenandung ria
melewati pepohonan rimbun “Nanana.. April hari ini cerah sekali ya” kataku pada
April, ia hanya mengangguk saja.
“Mau
kemana kitaaa?? Kerumah nenek.. Mau kemana kitaaa?? Kerumah nenek.” Aku menirukan
film Dora yang sering aku tonton setiap pagi. Tak jauh aku melihat tujuh orang
kuracaci yang sedang berkumpul, mereka tampak bingung. “April ada apa dengan
para kurcaci itu?” kataku. April mengangkat kedua bahunya. “Kita kesana yuk.”
“Hei
para kurcaci kenapa kalian terlihat bingung?” tanyaku. “Begini…” tampak
keraguan dan kecemasan dari kurcaci-kurcaci ini. “Kami hidup bersama seorang putri
bernama Snow White, namun tadi seorang
penyihir jahat memberinya sebuah apel beracun. Ketika putri menggigit apel
tersebut ia terjatuh pingsan dan hingga sekarang belum sadarkan diri.” salah
seorang kurcaci berbaju merah menceritakan masalah yang mereka hadapi. “Oh
begitu apa didaerah sini ada tanaman obat?” “Ada!” sahut mereka. “Dimana?
Tolong antarkan aku kesana.” Para kurcaci ini mengantarku ke bagian hutan yang
terdapat tanaman obat, ilmu obat-obatan yang dimiliki ibu sedikit sedikit aku
mengerti. “Disini tempatnya.” Kata seorang kurcaci berbaju biru.
“Baiklah
aku akan mencari beberapa tanaman” kataku. Aku mulai mengambil tanaman-tanaman
yang dibutuhkan. Setelah semua terkumpul aku ingin memberikan tanaman-tanaman
itu untuk para kurcaci, namun April menarik-narik bajuku dan menunjuk satu
tanaman. “oh iya, aku hampir lupa ada satu tanaman yang terlupa. Untung saja
April mengingatkan.”. April dan aku sering membantu ibu membuat obat-obatan.
“Ini
tanaman yang dibutuhkan untuk mengobati Snow White.” Kataku. “Terimakasih. Oh
iya, kami lupa menanyakan siapa namamu?.” para kurcaci menjawab serentak lalu
kurcaci berbaju kuning menanyakan namaku. “Namaku Rapunzel. Kalian harus
menumbuk semua tanaman ini menjadi satu lalu minumkan sedikit demi sedikit pada
Snow White.” aku memberi petujuk pada mereka. “Baiklah para kurcaci, aku harus
melanjutkan perjalananku menuju rumah nenek” aku mulai berpamitan pada ketujuh
orang kurcaci tersebut. “Hati-hati Rapunzel semoga kamu selamat sampai tujuan.”
kali ini kurcaci berbaju hijau berteriak. Mereka melambaikan tangan dan begitu
pula aku.
Perjalananku
pun berlanjut menyusuri hutan dengan pohon rimbun. Semakin aku jauh berjalan
semakin terdengar gemericik air disungai. Air nya begitu jernih diterpa sinar
matahari, terlihat ikan-ikan yang sedang berenang kesana-kemari. Dipinggir
sungai aku melihat seorang gadis cantik sepertinya lebih tua dariku, namun
pakaiannya lusuh. Ia terlihat seperti mencari sesuatu. Aku menghampirinya dan
bertanya “Hallo… Sedang apa kamu?” sapaku. Gadis itu sedikit kaget dengan
kehadiranku, “Aku sedang mencari tanaman obat untuk ibu tiriku yang sedang
sakit.” jawabnya. “Siapa namamu?” tanyaku. “Namaku Cinderella.” ia menjawab
dengan malu-malu. “Aku Rapunzel.” Jawabku memperkenalkan diri.
Cinderella
menceritakan bahwa ia seorang putri yang tinggal bersama ibu tiri jahat dan kedua
sudara tiri perempuan yang juga jahat padanya. “Kasihan sekali kamu Cinderella,
aku akan membantumu mencari obat untuk ibumu.” Jika Cinderella tidak membawakan
obat tersebut saudara tirinya tidak akan memberinya makan malam. Kami pergi
berjalan sambil mencari tanaman yang dibutuhkan. “Hei Cinderella! Itu kan
tanaman yang kamu cari?”. Cinderella terlihat kaget dan gembira “Iyaa! Itu
tanaman yang aku cari. Terimakasih Rapunzel berkat bantuanmu aku bisa menemukan
tanaman itu.” Cinderella menggenggam erat tanganku, ia sangat berterima kasih
padaku. “Sama-sama Cinderella. Aku harus melanjutkan perjalananku. Nanti kamu
bisa bercerita lagi padaku melalui e-mail. Aku akan menunggu suratmu.” Kataku
pada Cinderella. “Baiklah Rapunzel jika aku sempat aku akan mengirim e-mail
kepadamu.” Kami berpelukan kemudian melambaikan tangan.
April
mulai merasa lapar, ia memberi tahu kepadaku bahwa sekarang waktunya makan
siang. Aku juga sudah merasa lapar, aku melihat ada sebuah pohon anggur
yangterlihat sangat lezat sekali. “April lihat ada pohon anggur!” aku
menghampiri pohon tersebut. April yang sudah sangat lapar lalu memakan
anggur-anggur tersebut dengan lahap “Pelan-pelan April makannya nanti
tersedak!”. Lezat sekali anggur ini, gumamku. Tak lama muncul naga besar datang
dari atas langit menatap aku dan April dengan tatapan yang sangat tajam, degan
matanya yang seram. Aku kaget dan berteriak “Tolooong!! Toloong!”.
Seorang
pria datang dengan seekor kuda putih menggenggam pedang bertarung dengan naga
tersebut. Pedang pria ini mengenai kaki naga yang besar itu, naga terlihat
kesakitan lalu terbang kembali ke langit. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya pria
itu. “Ya aku baik-baik saja. Terimakasih atas pertolonganmu.” aku terpana pada
wajah pria ini. “Siapa namamu?” tanya
pria itu lagi. “Aku Rapunzel, siapa namamu?” aku balik bertanya. “Aku pangeran Eugene
Fitzherbert.” Seorang pangeran, aku terdiam tidak percaya. “Kamu ingin pergi
kemana?” tanyanya. “Kerumah nenekku didepan sana.” Aku menunjuk kearah rumah
nenek.
“Ayo
aku antar, naik kuda. Lebih aman.” ia menawarkan mengantarku. Aku diam sejenak,
tanpa piker panjang aku mengiyakan. Aku sampai rumah nenek dengan selamat,
memberikan obat pada nenek. Lalu aku langsung pamit pulang ada nenek. Eugene
mau mengantarku kembali ke menara, rumahku. Tidak disangka dari pertemuan
tersebut akhirnya kami menikah. Oh iya Cinderella juga sempat mengirim e-mail
padaku, ia bercerita bahwa ia sudah menikah dengan seorang pangeran. Baguslah
ia tidak akan dijahati lagi oleh ibu dan saudara tirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar